Saat ini Kredit Kepemilikan Rumah (KPR) di bank syariah kian disukai oleh masyarakat. Dengan angsuran atau cicilan kredit yang tetap hingga selesai, KPR bank syariah dianggap memberikan kepastian kepada nasabahnya.

Di Bank BRI Syariah, misalnya, sejak Agustus hingga akhir September lalu, terjadi kenaikan penyaluran KPR yang cukup besar. “Dua bulan lalu sudah disalurkan Rp 200 miliar, sebagian besar di segmen rumah Rp 400 juta hingga Rp 500 juta, ini perkembangan yang sangat pesat buat kami,” kata Giyantoro, SME & Linkage Group Head BRI Syariah, kepada Halomoney.co.id, pekan lalu (11/10).

Anda ingin memanfaatkan KPR di syariah untuk membeli rumah atau ruko? Sebelum Anda memutuskan memilih KPR syariah di suatu bank syariah, sebaiknya kenali jenis transaksi yang ditawarkan oleh bank syariah tersebut. Jika salah pilih, bisa-bisa Anda terbebani dengan angsuran KPR jauh melebihi kemampuan Anda untuk mencicil.

Sebenarnya di bank syariah berlaku sejumlah transaksi KPR. Namun yang paling popular dan sering ditawarkan kepada nasabah hanya dua. Pertama, KPR syariah dengan cicilan tetap. Kedua, KPR Syariah dengan cicilan tetap di awal namun sesudahnya berfluktuasi atau floating.

KPR Syariah Cicilan Tetap

Jenis transaksi ini tidak berlaku di sejumlah bank. Hanya bank syariah tertentu yang memberlakukan KPR Syariah Cicilan Tetap. Di sistem ini, Anda dan bank syariah telah menetapkan margin dan angsuran di awal akad kredit. Nasabah tidak mengalami perubahan cicilan hingga angsuran berakhir. Meski suku bunga bank sentral naik sehingga Bunga kredit KPR ikut naik, namun dengan skema ini cicilan Anda tidak berubah alias tetap hingga cicilan anda berakhir.

Transaksi ini memiliki sejumlah keunggulan: nasabah akan mendapatkan kepastian dan ketenangan dalam membayar cicilan karena nilai cicilan tidak berfluktuasi. Namun sistem transaksi ini akan merugikan jika nasabah mengikat kredit pada saat suku bunga acuan sedang tinggi. Sebab nasabah nantinya tidak akan menikmati penurunan suku bunga terhadap penurunan cicilannya.

Sebaiknya KPR Syariah Cicilan Tetap digunakan pada saat suku bunga sedang rendah seperti sekarang ini. Pertengahan September lalu, Bank Indonesia memangkas suku bunga acuan bernama BI Seven Days Revo Rate dari 5,75% menjadi 5,5%. Penurunan suku bunga acuan ini diperkirakan akan terus turun di akhir tahun ini sehingga berpotensi menurunkan lagi suku bunga KPR. Saat ini rata-rata margin atau suku bunga KPR bank syariah sekitar 12,5% hingga 13,75% per tahun.

KPR syariah cicilan floating

Jenis transaksi ini memudahkan nasabah di awal cicilan. Biasanya transaksi KPR syariah dengan cicilan berfluktuasi atau floating, memberikan cicilan rendah di awal karena bank hanya mengenakan suku bunga yang rendah. Namun cicilan tersebut hanya berlaku singkat: ada yang setahun, dua tahun dan tiga tahun pertama cicilan.

Setelah masa cicilan tetap habis, bank syariah mengenakan cicilan dengan nilai fluaktuatif. Nah, pada saat cicilan Anda berfluktuasi, Anda akan merasakan sedikit shock karena cicilan bulanan Anda untuk rumah jadi melonjak dari sebelumnya. Itu karena bank tetap membebankan nasabah dengan bunga/margin di tahun sebelumnya ke tahun-tahun berikutnya pada saat cicilan floating berlaku. “Bunga murah hanya di muka saja, bank tetap membebankan ke tahun berikutnya,” katanya.

Skema cicilan ini akan menguntungkan jika dilakukan pada saat suku bunga acuan dan suku bunga kreditnya sedang tinggi. Dengan skema floating, saat suku bunga KPR turun, Anda bisa ikut menikmatinya. Jadi Anda ingin memakai transaksi yang mana?

Sumber : https://www.halomoney.co.id/blog/kpr-syariah-pelajari-2-transaksi-ini

Call Now

× Hallo ada yang bisa kami bantu ?